You are currently viewing Bagaimana sebuah ide atau inovasi terbentuk?

Bagaimana sebuah ide atau inovasi terbentuk?

Eduidea.id – Konsep – konsep terbentuknya ide yang selama ini kita kenal adalah ide muncul begitu saja disaat kita sedang merenung atau tiba – tiba terjadi sesuatu seperti halnya saat ada apel jatuh di dekat Newton dan akhirnya muncul teori gravitasi. Tapi tidak, tidak seperti itu munculnya ide.

Dulu di Inggris, orang – orang sana terbiasa minum alkohol dari pagi sampai petang karena pada saat itu air tidak aman untuk diminum, sehingga minuman pendamping makanan adalah alkohol dan membuat mereka mabuk seharian. Kemudian di tahun 1650-an mulai menjamur kedai – kedai kopi dimana kedai kopi di Inggris mempunyai peran yang sangat penting bagi pengembangan dan penyebaran salah satu pertumbuhan intelektual terhebat 500 tahun terakhir ini yaitu apa yang kita sebut sekarang sebagaig pencerahan. Hal tersebut disebabkan karena keunikan arsitektur ruangannya dimana orang-orang dapat berkumpul dari latar belakang yang bebeda, bidang keahlian yang berbeda, dan saling berbagi

Kemudian ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Kevin Dunbar Professor of Human Development and Quantitative Methodology dari University of Maryland, dia ingin mengetahui dari mana sebuah ide atau penemuan itu muncul. Kemudian dilakukan sebuah pengamatan pada suatu laboratorium dimana banyak ilmuwan melakukan penelitian. Tetapi pada kenyataannya hampir tidak ada ide terobosan yang penting terjadi di lab, justru ide tersebut terbentuk di meja konfrensi pada saat pertemuan lab mingguan, Ketika semua orang berkumpul dan saling berbagi Informasi.

Hal tersebut menyimpulkan bahwa pada saat kita memikirkan sesuatu, kita mengambil ide dari orang lain, dari guru-guru kita, dari orang yang kita temui di kedai kopi, dari hasil pengamatan di laboratorium lalu kita gabungkan semua Informasi tersebut menjadi bentuk baru dan sebuah kreasi baru. Sehingga dapat diketahui bahwa sebuah ide baru akan terbentuk ketika jaringan neuron – neuron baru saling berinteraksi secara bersamaan di dalam otak kita kemudian menjadi sebuah konfigurasi yang belum pernah terbentuk sebelumnya. Itulah bagaimana inovasi terjadi dimana terdapat peluang ide yang besar ketika pikiran-pikiran saling terhubung satu sama lain. 

Kemudian pertanyaannya adalah, bagaimana cara mengkondisikan otak kita sehingga neuron – neuron baru ini mudah terbentuk? Dan bagaimana kita dapat menciptakan sebuah lingkungan yang memungkinkan semua ide-ide ini untuk memiliki waktu hidup yang panjang?

Saat ini perusahaan teknologi yang kaya akan inovasi seperti Google memberikan alokasi waktu 20 persen bagi karyawannya untuk berinovasi, menciptakan ruangan – ruangan dengan desain openspace office yang nyaman untuk saling berinteraksi dan salah satunya untuk menghabiskan 20% waktunya tersebut. Hal tersebut perlu dilakukan karena tanpa adanya ruang dan waktu untuk saling bertukar ide secara nyaman, maka komitmen manajemen terhadap inovasi, hanyalah tetap merupakan dorongan yang kosong dan tidak bisa menghasilkan sesuatu apapun.

Selain itu adanya pemberian anugerah dan penghargaan khusus bagi karyawan-karyawan yang berhasil melakukan inovasi bagi kinerja atau keberlanjutan organisasi, merupakan mekanisme untuk mendorong adanya ‘ buy-in ’ karyawan terhadap proses inovasi, sehingga filosofi dari inovasi, sebagai suatu cara kehidupan organisasi dapat terlaksana.

Dan untuk mendukung terlaksananya inovasi, organisasi harus menghindari kemacetan birokrasi yang berdampak menyumbat inovasi. Salah satu penyebab utama kemacetan proses inovasi di organisasi adalah sistem prosedur yang bersifat birokratis, misalnya meminta persetujuan yang sebenarnya hanya merupakan  proforma semata atau adanya keharusan menyampaikan laporan tertentu, yang sebenarnya tidak perlu dilaporkan.

Tinggalkan Balasan