You are currently viewing Awalnya Akrab, Kini Musuhan: Sejarah Konflik Iran dan Israel

Awalnya Akrab, Kini Musuhan: Sejarah Konflik Iran dan Israel

Kalian pernah denger nggak? Teman lama bisa jadi musuh bebuyutan. Tapi gimana kalau skalanya negara? Iran dan Israel, yang dulu nggak saling ganggu, sekarang saling balas rudal. Kok bisa? Yuk kita bongkar konfliknya—dari awal sampai sekarang

Kita nggak cuma ngomongin berita panasnya aja, tapi juga nyelam lebih dalam—sejarah hubungan mereka, alasan kenapa konflik ini meledak sekarang, hingga detail operasi militer Israel yang disebut Operation Rising Lion.

Faktanya, konflik ini bukan cuma soal serangan rudal, tapi juga menyangkut senjata nuklir, geopolitik, dan ancaman eksistensial.

Sejarah Hubungan Iran dan Israel

Dulu bestie, sekarang musuhan. Kok bisa?

Pada awalnya, sebelum Revolusi Iran tahun 1979, Iran dan Israel sebenarnya tidak punya masalah besar. Bahkan, Iran termasuk salah satu negara Muslim pertama yang mengakui eksistensi Israel. Saat itu, Iran dipimpin oleh Shah Mohammad Reza Pahlavi, seorang pemimpin yang pro-Barat. Shah melihat Israel sebagai mitra strategis di kawasan Timur Tengah, terutama karena mereka sama-sama merasa terancam oleh negara-negara Arab.

Namun, semua berubah setelah revolusi

Pada tahun 1979, Revolusi Islam Iran berhasil menggulingkan Shah. Ayatollah Khomeini, sebagai pemimpin baru, langsung mengubah arah kebijakan negara. Dari yang sebelumnya sekuler, Iran berubah menjadi teokrasi berbasis Islam Syiah. Khomeini mendeklarasikan Israel sebagai “musuh umat Islam” dan segera memutus hubungan diplomatik.

Sejak saat itu, Iran mulai aktif mendukung kelompok-kelompok yang menentang Israel, seperti Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Palestina.

Kenapa Konflik Meledak Sekarang?

Konflik Iran dan Israel sebenarnya sudah berlangsung selama beberapa dekade, tapi kenapa sekarang jadi makin panas? Jawabannya ada di tiga hal utama:

1. Program Nuklir Iran

Iran punya ambisi besar untuk mengembangkan program nuklirnya, yang mereka klaim untuk tujuan damai. Tapi Israel nggak percaya. Israel melihat pengayaan uranium Iran sebagai ancaman langsung. Apalagi, menurut laporan intelijen, Iran sudah hampir mencapai “breakout capability—artinya mereka bisa bikin senjata nuklir dalam waktu singkat.

Israel, yang sering disebut punya “senjata nuklir diam-diam,” merasa nggak bisa tinggal diam. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahkan bilang:

“Iran dengan nuklir adalah ancaman eksistensial bagi Israel, dan kita tidak akan membiarkan itu terjadi.”

2. Operasi Rising Lion

Pada tanggal 13 Juni 2025, Israel meluncurkan Operation Rising Lion, sebuah serangan udara besar-besaran yang menargetkan fasilitas nuklir Iran. Operasi ini melibatkan lebih dari 200 jet tempur, termasuk pesawat siluman F‑35 dan sejumlah drone canggih. Target utamanya adalah pabrik pengayaan uranium serta fasilitas pertahanan militer yang dianggap strategis oleh Iran.

3. Kenapa Disebut Rising Lion?

Nama “Rising Lion” diambil sebagai simbol keberanian dan ketangguhan. Selain itu, Israel ingin menyampaikan pesan tegas bahwa mereka siap bangkit melawan ancaman apa pun—termasuk dari Iran.

3. Balasan Rudal dari Iran

Namun, Iran tidak tinggal diam.
Sebagai balasan, mereka segera meluncurkan lebih dari 100 rudal balistik dan 150 drone ke wilayah Israel.

Serangan ini menargetkan berbagai lokasi penting seperti:

  • Pangkalan militer,
  • Fasilitas infrastruktur strategis,
  • Dan bahkan area permukiman sipil.

Meski begitu, banyak dari serangan ini berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Israel, Iron Dome, yang terkenal sangat responsif dalam menghadapi serangan rudal.

Sisi Ilmiah dan Strategi di Balik Operasi

Apa yang bikin Operation Rising Lion beda?
Operasi ini bukan cuma serangan udara biasa. Ada tiga strategi unik yang Israel gunakan:

  1. Serangan Drone Infiltratif
    Sebelum operasi besar dimulai, Israel mengirim drone untuk mengacaukan sistem pertahanan udara Iran. Ini termasuk menyerang radar dan komunikasi militer Iran, membuat mereka buta sementara.
  2. Jet Tempur Generasi Kelima
    Israel menggunakan F‑35, jet tempur canggih yang bisa menghindari radar. Jet ini memungkinkan Israel menyerang fasilitas Iran tanpa terdeteksi.
  3. Perang Psikologis
    Salah satu bagian unik dari operasi ini adalah penggunaan telepon peringatan. Israel mengirim pesan langsung ke para komandan militer Iran, meminta mereka menyerah atau menghadapi konsekuensi berat. Taktik ini bertujuan melemahkan moral militer Iran.

Dampak Konflik

Konflik ini membawa dampak besar, baik bagi Iran, Israel, maupun dunia internasional:

  1. Kerugian di Kedua Sisi
  • Iran kehilangan ratusan personel militer dan beberapa fasilitas nuklirnya hancur.
  • Israel juga mengalami kerugian, meskipun lebih kecil, termasuk cedera akibat serangan rudal Iran.
  1. Tekanan Diplomatik Internasional
    Negara-negara seperti Amerika Serikat dan Rusia mulai mendesak kedua pihak untuk menahan diri. Tapi hingga sekarang, belum ada solusi diplomatik yang benar-benar efektif.
  2. Ancaman Perang Lebih Besar
    Jika konflik ini terus berlanjut, ada risiko perang skala besar yang melibatkan negara-negara lain di Timur Tengah. Ini bisa menjadi salah satu krisis geopolitik terbesar di abad ini.

Kesimpulan

Konflik Iran dan Israel ini lebih dari sekadar perang rudal. Ini adalah benturan ideologi, politik, dan ambisi nuklir yang sudah berlangsung selama puluhan tahun. Dengan Operation Rising Lion, Israel menunjukkan bahwa mereka nggak akan tinggal diam menghadapi ancaman dari Iran. Tapi pertanyaannya, sampai kapan konflik ini akan berlanjut?

Baca juga : Dampak Konflik Negara terhadap Ekonomi Dunia – Eduidea

Youtube : (5) Eduidea ID – YouTube

Tinggalkan Balasan