Di tahun 2018, Jakarta sempat jadi sorotan. Kali Item, sungai yang dikenal dengan bau busuknya, tiba-tiba diselimuti kain hitam. Apakah ini solusi brilian atau hanya sebuah usaha sementara? Yuk, kita bedah faktanya bareng-bareng!
Berita ini mulai ramai saat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memutuskan menutup permukaan Kali Item dengan kain hitam menjelang Asian Games 2018. Tujuannya? Ya, untuk mengurangi bau busuk yang bisa bikin malu Jakarta di mata dunia. Gubernur Anies Baswedan menyebut langkah ini sebagai cara praktis mengatasi masalah tanpa ribet.
Tapi nggak semua orang setuju. Ada yang bilang, ‘Ini cuma solusi kosmetik! Buat nutupin masalah sebenarnya.’ Gimana nggak, limbah domestik dan industri yang mencemari Kali Item kan tetap di sana. Jadi, kain hitam ini kayak nutupin luka tapi nggak ngobatin.
Apa yang Terjadi di Media Sosial?
Media sosial? Wah, rame banget, Ada yang bikin meme, nyebut Kali Item jadi ‘Kali Nyemek’ karena mirip kolam yang nggak bisa dilihat dasarnya. Ada juga yang nyinyir soal anggaran. Rp 580 juta buat kain hitam? Banyak yang bilang, ‘Mending buat bersihin kali, deh!’
Tapi nggak sedikit juga yang dukung. Katanya, ‘Daripada bau busuk nyebar pas Asian Games, mending sementara ditutup dulu. Yang penting tamu-tamu internasional nggak ngeluh.
Apakah Menutup Kali Item Itu Solusi Efektif?
Penutupan Kali Item dengan kain hitam punya dasar ilmiah. Cara ini bisa mengurangi gas berbau seperti H₂S dan NH₃. Gas ini biasanya muncul dari air yang sudah tercemar.
Penelitian dari Picot et al. (2001) menunjukkan bahwa penggunaan material terapung bisa menurunkan emisi bau hingga 84,6%. Ini karena penutup menghambat kontak langsung antara air dan udara. Hasil serupa juga ditemukan dalam studi Paing et al. (2003), terutama pada kolam anaerobik.
Risiko Jangka Panjang di Balik Penutupan Permukaan
Namun, kita harus paham bahwa solusi ini hanya sementara. Gas-gas seperti H₂S tetap terjebak di dalam air dan bisa memperparah kondisi anaerobik di dasar sungai. Ini bisa menurunkan kualitas air secara signifikan dalam jangka panjang.
Selain itu, kain hitam yang digunakan tidak dirancang untuk penggunaan jangka panjang. Dibandingkan dengan teknologi seperti geomembran atau bola apung, kain tersebut lebih cepat rusak dan sulit digunakan kembali.
Mengapa Solusi Jangka Panjang Lebih Dibutuhkan?
Polusi tetap berjalan. Limbah rumah tangga dan industri terus mengalir ke Kali Item. Data dari CNN Indonesia menunjukkan bahwa meskipun bau berkurang, kualitas air tetap dalam kondisi tercemar berat.
Menurut Dong et al. (2013), sungai dengan limbah organik tinggi perlu penanganan dengan instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Sistem ini dapat menyaring bahan organik sebelum air dibuang ke sungai.
Alternatif Teknologi yang Lebih Ramah Lingkungan
Menurut laporan dari Euro-Matic, penggunaan geomembran atau bola plastik bisa mengurangi penguapan air hingga 90%. Meski lebih mahal dari kain hitam (yang memakan biaya Rp 580 juta), teknologi ini lebih awet dan bisa digunakan berulang.
Selain itu, laporan dari ITB menyarankan teknologi fitoremediasi, yaitu penggunaan tanaman air seperti eceng gondok untuk menyerap polutan. Solusi ini lebih alami dan terjangkau untuk kondisi sungai seperti Kali Item.
Kesimpulan
Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari kasus Kali Item? Pertama, penutupan permukaan bisa jadi solusi sementara yang efektif untuk ngurangin bau, apalagi saat waktu mepet kayak Asian Games. Tapi, kalau cuma berhenti di situ, ya sama aja kayak nutupin masalah tanpa beneran nyelesaiin.
Kedua, butuh strategi jangka panjang, seperti pengelolaan limbah yang lebih baik, revitalisasi sungai, dan edukasi masyarakat soal kebersihan lingkungan. Ini bukan cuma tugas pemerintah, tapi juga tanggung jawab kita semua.
Ingat, sungai itu bukan cuma tempat aliran air, tapi juga cerminan kita sebagai masyarakat. Kalau kita bisa ngejaga sungai, kita juga ngejaga masa depan kita sendiri.
Baca juga : Menyelusuri Polusi di Jakarta – Eduidea
Youtube : (8) KAIN HITAM DI KALI ITEM? CUMA GAYA ATAU ADA FUNGSINYA? – YouTube
