Ringkasan Buku The Subtle Art of Not Giving a F*ck Bab 3

Ringkasan Buku The Subtle Art of Not Giving a F*ck Bab 3

Di era 1960-an, meningkatkan “penghargaan diri” berpikiran dan berperasaan positif tentang diri sendiri sangat “ngetrend” di ranah psikologi. Bahkan penelitian menemukan bahwa orang-orang yang menilai dirinya tinggi pada umumnya menunjukan kinerja yang lebih baik dan membuat lebih sedikit masalah. Namun bergantilah generasi berikutnya, dan terbacalah sebuah data bahwa: tidak ada dari kita yang istimewa. Ternyata, sekedar merasa bahagia atas diri Anda sendiri tidak berarti apa-apa, kecuali jika Anda memiliki satu alas an yang bagus untuk merasa Bahagia atas diri anda sendiri.

Permasalahan yang terjadi dalam upaya peningkatan penghargaan diri adalah bahwa ukuran yang digunaka berdasar seberapa positif orang melihat diri mereka sendiri. Namun ukuran yang benar dan akurat untuk penghargaan diri seseorang sesungguhnya terletak pada bagimana orang tersebut memahami aspek negative dari diri mereka sendiri. Meyakinkan diri sebagai makhluk yang special, merupakan sebuah strategi yang gagal. Ini hanya membuat Anda “tinggi”/nge-fly. Tapi itu bukan kebahagian.

Pengukuran yang benar tentang penghargaan diri seseorang bukan pada bagaimana seseorang merasakan pengalaman positifnya, namun lebih pada bagaimana dia merasakan pengalaman negative nya. Seseorang yang benar-benar memiliki penghargaan diri yang tinggi mampu melihat bagian negatif dari pribadinya secara blak-blakan , kemudian bertindak untuk memperbaikinya. Namun orang yang keblinger dengan dirinya sendiri, karena mereka tidak mampu mengakui masalah mereka sendiri secara terbuka dan jujur, justru tidak bisa memperbaiki hidup mereka dengan cara yang tahan lama atau bermakna

Hancur Berantakan

Ketika “tetek bengek pengalaman traumatis” dalam hidup terjadi pada diri kita, secara tidak sadar kita mulai merasa seolah masalah ini tidak pernah mampu kita selesaikan. Dan asumsi ketidakmampuan kita untuk meyelesaikan masalah ini membuat kita merasa sedih dan tak berdaya. Tetapi ini juga mengakibatkan hal lain. Jika kita punya masalah yang tidak terselesaikan, alam bawah sadar kita tahu bahwa kita sebenarnya tidak istimewa atau gagal dalam arti tertentu. Bahwa kita, entah bagaimana, tidak seperti orang lain dan karena itu beberapa aturan berlaku berbeda untuk kita. Alasannya sederhana: kita merasa istimewa.

Jika anda memiliki masalah, ada peluang jutaan orang lain juga memilikinya entah dulu, sekarang atau esok. Dan hal tersebut membuktikan bahwa kita tidak istimewa. Mengenang suatu keistimewaan membuat orang-orang merasa lebih buruk tentang diri mereka sendiri, membuat mereka merasa bahwa mereka harus menjadi lebih ekstrem, lebih radikal, dan lebih percaya diri, agar bisa diperhatikan atau diperhitungkan. Segelintir orang yang berhasil menjadi unggul di suatu bidang, meraih posisi tersebut bukan karena mereka meyakini diri mereka istimewa. Sebaliknya, mereka menjadi luar biasa karena mereka terobsesi dengan perbaikan. Dan obsesi ini berasal dari keyakinan yang tidak pernah salah bahwa mereka, dalam kenyataannya, sama sekali tidak istimewa.

Leave a Reply