You are currently viewing The Subtle Art of Not Giving a F*ck Bab 1 – Ringkasan Buku

The Subtle Art of Not Giving a F*ck Bab 1 – Ringkasan Buku

The Subtle Art of Not Giving a F*ck Bab 1!- 
Artikel kali ini memiliki lanjutan resensi Bab 2 dari buku The Subtle Art of Not Giving a F*ck.

Eduidea.id – Pada artikel kali ini saya mau menceritakan resensi buku yang lumayan hits berjudul The Subtle Art of Not Giving a F*ck, atau jika dartikan ke dalam bahasa Indonesia adalah Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Buku ini terdiri dari 9 bab dan menceritakan tentang bagaimana untuk kita bisa melakukan “prioritizing” terhadap sesuatu hal yang penting dalam hidup. sehingga kita dapat mengatakan “bodo amat” terhadap hal – hal sepele yang akan mengganggu tercapainya tujuan penting dalam hidup.

The Subtle Art of Not Giving a F*ck –Bab 1 Jangan Berusaha

Di era teknologi ini, kita menjadi punya banyak asupan informasi yang seolah – olah tidak ada batasnya. Contoh gampang nya adalah dari sosial media. Postingan setiap orang di sosial media kebanyakan mempunyai afiliasi untuk memamerkan sesuatu, entah itu jalan – jalan ke luar negeri, mempunyai pekerjaan baru di tempat yang keren, menikahi wanita yang cantik, punya anak yang lucu dan menggemaskan. Akibatnya kita merasa terpinggirkan, merasa diri ini jelek, dan merasa kecewa atas hal – hal yang kita miliki. Hal ini membuat kita kini tampak tak sehebat yang kita kira. Sehingga kita menjadi merasa semakin tidak puas dan tidak bersyukur dengan apa yang Tuhan anugerahkan kepada kita saat ini, dan akhirnya hal tersebut mendorong kita untuk terus berhasrat mengejar orang lain.

Dalam buku ini disampaikan bahwa Hasrat untuk mengejar semakin banyak pengalaman positif sesungguhnya adalah pengalaman negative. Sebalikanya, secara paradoksal, penerimaan seseorang terhadap pengalaman negative jsutru merupakan sebuah pengalaman positif. Dalam Bahasa sederhana saya, ini memiliki makna untuk mensyukuri segala sesuatu yang Tuhan telah anugerahkan.

The Subtle Art of Not Giving a F*ck –3 Seni Berfikir Bodo Amat

Dengan selalu merasa bersyukur, kita tidak akan merasa cemas dan gusar dengan pencapaian orang. Dan hal tesebut lah yang dimaksud “bodo amat” dalam buku ini. Selain itu buku ini mengajarkan kita bahwa semua hal yang bernilai positif dalam kehidupan pasti dimenangkan lewat pengalaman yang berasosiasi negative. Dari sini kita juga harus sadar bahwa pencapaian orang lain dalam suatu hal, pasti diawali dari sebuah kesulitan. Hal ini akan membuat kita tidak hanya melihat dari ujungnya saja tanpa mendalami perjuangan sebelumnya yang telah dilakukan.

Selain itu ada tiga seni yang dapat membantu untuk kita dapat berfikir “bodo amat” antara lain:

Seni #1

Seni yang pertama,  mental “bodo amat” ini bukan berarti acuh tak acuh seakan tidak peduli dengan sekitar. Itu karena orang yang acuh tak acuh sebenarnya dia berusaha melarikan diri dari kesulitan. Namun arti “bodo amat” disini adalah bisa menikmati tantangan yang kita hadapi tanpa peduli dengan kesulitan yang akan terjadi didepan.

Seperti diceritakan diawal, bodo amat ini merupakan sikap tidak peduli terhadap hal – hal yang sepele. Oleh karena itu supaya kita tidak memperdulikan hal – hal sepele, maka kita harus melakukan hal – hal yang lebih penting dan produktif

Seni #2

Seni yang ke-2, untuk bisa mengatakan “bodo amat” pada suatu kesulitan, pertama – tama anda harus harus peduli terhadap sesuatu yang jauh lebih penting dari kesulitan tersebut. Sebagai contoh jika ada seseorang yang selalu mempermasalahkan sesuatu yang bagi banyak orang hal tersebut merupakan hal sepele. Ini berarti dia mungkin tidak punya hal lain yang lebih penting untuk layak dipedulikan.

Secara psikologis, ketika seseorang tidak memiliki masalah, pikirannya secara otomatis akan menemukan cara untuk menciptakan suatu masalah. Jadi menemukan sesuatu yang penting dan bermakna dalam kehidupan, mungkin menjadi cara yang paling produktif untuk memanfaatkan waktu dan tenaga yang kita miliki. Karena jika tidak, perhatian kita akan tercurah untuk hal – hal yang tanpa makna dan sembrono.

Seni #3

Seni yang ke-3, Entah disadari atau tidak, kita selalu memilih sesuatu hal untuk diperhatikan. Manusia tidak dilahirkan dalam keadaan tanpa kepedulian. Faktanya, kita dilahirkan untuk risau terhadap terlalu banyak hal, dan kedewasaan muncul ketika seseorang belajar untuk peduli pada sesuatu yang sangat berharga.

Tinggalkan Balasan