Ringkasan Buku The Subtle Art of Not Giving a F*ck Bab 6

Ringkasan Buku The Subtle Art of Not Giving a F*ck Bab 6

Saat remaja, saya mengatakan kepada semua orang bahwa saya tidak memedulikan apa pun, padahal kebenarannya saya terlalu peduli. Dan kemudian saya menyadari bahwa setiap pribadi harus memutuskan tentang apa yang disebut “cukup”, dan bahwa cinta harus dibiarkan berjalan apa adanya.

            Pertumbuhan merupakan proses yang berulang yang tidak pernah berakhir. Ketika kita mempelajari sesuatu yang baru, kita tidak beranjak dari “salah”menuju “benar”. Namun, kita berangkat dari salah menuju sedikit salah. Dan ketika kita menambahkan sesuatu yang baru lagi, kita bergerak dari sedikit salah ke kesalahan yang lebih sedikit, dan kemudian keslahan yang lebih sedikit lagi, dan seterusnya. Kita selalu dalam proses mendekati kebenaran dan kesempurnaan tanpa benar – benar dapat meraih kebenaran dan kesempurnaan itu sendiri.

            Tidak ada dogma yang benar. Tidak ada pula ideologi yang sempurna. Yang ada hanyalah bahwa pengalaman Anda telah menunjukan kepada Anda mana yang benar untuk Anda dan bahkan, bahwa pengalaman juga bisa keliru. Banyak orang teramat terobsesi untuk dapat memiliki hidup yang “ benar” , sampai – sampai meraka sesungguhnya tidak benar menjalani hidup itu sendiri. Mereka diajarkan untuk takut akan kegagalan, akan penolakan, takut mendengar seseorang menampik permohonannya.

            Kepastian adalah musuh dari pertumbuhan. Tidak ada yang pasti hingga itu benar – benar terjadi dan bahkan sesudahnya, itu masih dapat diperdebatkan. Daripada berusaha menjadi benar setiap saat, sebaiknya kita cari tahu bagaimana kita bias keliru setiap saat. Karena kita memang demikian. Kekeliruan membuka kemungkinan adanya perubahan. Kekeliruan membawa kesempatan untuk tumbuh. Ini berarti tidak lagi menyayat lengan Anda untuk menyembuhkan flu atau mencipratkan kencing anjing di muka anda agar terlihat muda kembali.

            Beberapa momen yang sulit dan penuh tekanan dalam kehidupan kita berubah menjadi sesuatu yang sangat membangun dan motivasi. Beberapa pengalaman terbaik dan yang paling memuaskan dalam kehidupan kita, menjadi pengalaman yang sangat mengganggu dan menyurutkan semangat.

Arsitek Keyakinan Kita Sendiri

            Ajak beberapa orang untuk masuk ke dalam suatu ruangan yang dilengkapi dengan beberapa tombol. Lalu katakan kepada mereka bahwa jika mereka melakukan sesuatu secara spesifik tanpa diberitahu itu apa persisinya- maka akan ada satu lampu yang menyala, menunjukan kalau mereka telah memenangkan poin.

            Ketika para psikolog melakukan eksperimen ini, yang terjadi mungkin sama dengan yang Anda kira. Orang- orang duduk dan mulai memukul- mukul tombol secara sembarangan hingga pada akhirnya lampu menyala, menunjukan kalau mereka mendapat poin. Secara logis, mereka kemudian mengulangi apa pun yang mereka lakukan untuk mengantongi lebih banyak nilai. Dan ketika lampu tidak menyala. Mereka mulai beresksperimen dengan urutan yang lebih rumit-menekan tombol 3 kali, kemudian sekali, kemudian menunggu 5 detik, dan – ding! satu poin lagi.

            Secara umum, dalam waktu 10 – 15 menit setiap orang berhasil menemukan perilaku dengan urutan yang spesifik  untuk mendapatkan poin lebih banyak. Namun ini bagian lucunya sebenarnya poin tersebut muncul secara sembarangan. Tidak ada urutannya; tidak ada polanya. Hanya lampu yang terus menyala dengan suara ding, dan orang – orang berjungkir balik, sembari meyakini  bahwa apa yang mereka lakukan menghasilkan poin.

            Mungkin terkesan kejam , tetapi inti dari eksperimen ini adalah untuk menunjukan betapa cepat pikiran manusia mampu muncul dan meyakini omong kosong yang tidak nyata. Mereka semua percaya bahwa mereka telah menemukan tombol yang “sempurna” untuk mendapatkan poin.

            Otak kita adalah mesin makna. Yang kita maksud dengan “ makna” adalah produk atau hasil asosiasi yang dilakukan otak kita terhadap 2 pengalaman atau lebih. Namun ada 2 masalah. Pertama, otak tidak sempurna. Kita acap kali keliru melihat dan mendengar suatu hal. Kita melupakan banyak hal atau cukup mudah keliru menafsirkan suatu peristiwa. Kedua, begitu kita menciptakan sebuah makna bagi diri kita sendiri, otak kita dirancang untuk mempertahankannya. Kita contoh berprasangka terhadap makna yang telah dibuat oleh pikiran kita, dan kita tidak mau melepaskannya.

            Pangkal dari semua ini? Sebagian besar kayakinan kita keliru. Atau, lebih tepatnya lagi, semua kayakinan keliru – beberapa hanya sedikit lebih keliru dari yang lainnya. Pikiran manusia adalah ketidakakuratan yang campur aduk. Dan meskipun ini membuat Anda menjadi tidak nyaman, ini merupakan konsep yang sangat penting untuk diterima, seperti yang akan kita lihat berikut ini.

Berhati – Hatilah dengan Apa yang Anda Percayai.

            Pada 1988, ketika menjalani terapi, seorang jurnalis dan pengarang berhaluan feminis Meredith Maran mendapati sebuah pengalaman yang mengagetkan; ayahnya pernah melakukan kekerasan seksual  terhadapnya ketika masih kecil. Ini sangat mengempas, suatu ingatan yang berusaha ia lupakan sejak beranjak dewasa. Namun di usi 37 tahun, dia memutuskan untuk menghadapi ayahnya, dan juga mengatakan kepada keluargannya apa yang telah terjadi.

            Kabar dari Meredith ini membuat seluruh keluarganya ketakutan. Ayahnya langsung menyangkal. Beberapa anggota keluarga memihak Meredith. Yang lain memihak ayahnya. Pohon keluarganya terbelah menjadi dua. Lalu pada 1998, Meredith menyadari sesuatu yang tidak kalah menggagetkan: ayahnya tidak pernah melecehkannya secara seksual. Dia, dengan bantuan seorang terapis, sebenarnya menciptakan sendiri memori tersebut.

            Rupanya Meredith tidak sendirian. Seperti yang dijelaskannya dalam autobiografinya, My Lie: A true Story of False Memory, sepanjang 1980-an, banyak wanita menuduh anggota keluarga laki – laki merela telah melakukan kekerasan seksusal, dan mengakui bahwa mereka telah salah menuduh beberapa tahun kemudian.

            Pernahkah Anda bermain telepon – teleponan ketika masih anak – anak? Anda masih ingat, anda mengatakan sesuatu di telinga seseorang lalu kedua membisikan apa yang di dengar ke orang ketiga dan seterusnya hingga kurang lebih ke 10 orang, dan apa yang didengar orang terakhir sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang Anda telah lakukan di awal ? pada dasarnya seperti itulah memori kita bekerja.

            Kita selalu berada dalam suatu keadaan yang abadi untuk menyesatkan diri kita dan orang lain karena otak kita hanya dirancang agar efisien, bukan akurat. Otak kita selalu mencoba untuk membuat situasi kita saat ini menjadi masuk akal berdasarkan apa yang telah kita yakini dan alami. Setiap keeping informasi baru, diukur dengan nilai dan kesimpulan yang telah kita punyai. Akibatnya, otak kita selalu bias terhadap apa kita rasa sebagai sesuatu yang benar pada saat itu. Jadi ketika kita mempunyai hubungan yang manis dengan saudara kita, kita akan menafsirkan hampir semua ingatan tentangnya dalam cahaya yang positif. Namun ketika hubungan menjadi masam, kita akan sering melihat memori yang ama dengan cara pandang berbeda.

            Cerita palsu pelecehan Meredith jauh lebih masuk akal setelah kita memahami nilai – nilai yang menumbuhkan keyakinannya. Pertama – tama, Meredith sudah punya hubungan yang tegang dan sulit dengan ayahnya di sepanjang hidupya. Kedua, Meredith mengalami serangkaian kegagalan ketika menjalin hubungan dengan laki – laki, termasuk pernikahan yang gagal.

Bahaya Kepastian Murni

            Pertengahan 1990an, seorang psikologi  Roy Baumeister mulai meneliti tentang konsep kejahatan. Pada dasaranya, dia mengamati orang – orang yang melakukan hal yang jahat dan mengapa mereka melakukan itu.

            Asumsi yang ada ketika itu adalah bahwa orang – orang melakukan hal yang buruk karena mereka merasa dirinya buruk- artinya, mereka memandang rendah diri mereka. Salah satu temuan, Baumeister yang mengejutkan adalah bahwa asumsi tersebut seringkali keliru. Dalam kenyataannya, yang biasa terjadi justru sebaliknya. Beberapa criminal kelas kakap punya kepercayaan dan kepercayaan diri yang cukup baik. Dan perasaan inilah, terlepas dari realitas di sekitar mereka, yang memberi mereka semacam pembenaran untuk melukai dan berbuat buruk pada orang lain. 

            Orang – orang yang merasa tindakan buruknya dibenarkan, pasti merasakan kepastian yang tak terbantahkan akan nilai – nilai kebenaran yang mereka yakini, aneka kepercayaan diri serta keistimewaan yang mereka pikir pantas mereka dapatkan. Orang – orang yang rasis melakukan hal – hal yang rasis karena mereka sungguh yakin tentang superioritas genetik mereka. Para pemeluk agama yang fanatik meledakan diri mereka dan membunuh puluhan karena yakin adanya suatu tempat istimewa yang akan mereka dapatkan di surga sebagai martir. Pria memperkosa dan melakukan kekerasan terhadap wanita karena yakin mereka berhak atas tubuh mereka. Orang – orang yang jahat tidak akan pernah percaya kalau mereka jahat; melainkan, mereka percaya kalau orang lainlah yang jahat.

            Semakin anda menerima sepenuhnya ketidakpastian dan ketidaktahuan akan aneka hal, Anda akan semakin merasa nyaman karena tahu persis apa yang tidak anda ketahui. Ketidakpastian merupakan akar dari semua kemajuan dan pertumbuhan. Seperti bunyi salah satu adagium kuno, manusia yang yakin dirinya mengetahui semuanya, tidak akan mempelajari sesuatu pun. Keterbukaan untuk mengakui kesalahan. Keterbukaan untuk mengakui kesalahan harus ada terlbih dahulu jika Anda mengingkan perubahan atau pertumbuhan.

            Sebelum kita mencermati nilai – nilai dan prioritas kita mengubahnya menjadi lebih baik, lebih sehat, pertama – tama kita harus meragukan nilai – nilai yang kita miliki saat ini. Kita harus secara intelektual menelanjangi nilai – nilai tersebut tidak cocok dengan sebagian besar manusia di muka bumi, kemudian menatap lekat – lekat ketidaktahuan kita dan mengakuinya, karena ketidaktahuan kita ternyata lebih besar dari kita sendiri. 

Hukum Menghindar Manson

            Hukum manson berlaku untuk hal yang baik dan buruk dalam kehidupan. Dalam hal ini “menganal diri sendiri” bia membahayakan. Ini bias membuat Anda terpaku pada sebuah peran yang kaku dan membebani Anda dengan ekspetasi yang tidak penting. Ini bias menutupi Anda dari potensi diri dan peluang dari luar.

            Saya katakan jangan temukan diri Anda. Saya berkata jangan kenali diri Anda. Karena inilah yang akan menjaga Anda untuk tetap berusaha dan mencari. Dan ini akan memaksa Anda untuk tetap rendah hati dalam penilaian Anda dan menerima berbagai perbedaan dari banyak orang. 

Bunuh Diri Anda Sendiri

            Buddhisme berpendapat bahwa ide Anda tentang siapa diri “ Anda” sama sekali; idea tau ukuran yang Anda gunakan untuk menyatakan diri Anda sesungguhnya dapat menjebak diri Anda, dank arena itu lebih baik Anda melepaskan segalanya. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa Buudhisme mendorong anda untuk bodo amat.

            Saran saya; Jangan  jadi Istimewa; jangan jadi unik. Definisikan ulang ukuran Anda dengan cara yang biasa dan umum. Pilihlah sebuah ukuran untuk diri sendiri Anda bukan sebagi primadona atau jenius terselubung. Piihlah ukuran diri Anda sendiri bukan sebagi korban yang mengerikan tau suatu kegagalan yang suram. Sebagi gantinya, ukur diri Anda dengan identitas yang lebih biasa; seorang siswa, seorang rekan, seorang teman, dan seorang pencipta.

            Semakin sempit dan semakin langka suatu identitas yang Anda pilih, semua hal akan tempak semakin mengancam Anda. Untuk alas an itu, sedapat mungkin nyatakan diri Anda dengan cara yang paling sederhana dan paling biasa.

Cara Menjadi Tidak Terlalu Pasti pada Diri Sendiri

Berikut ini beberapa pertanyaan yang akan membantu Anda untuk mengembangkan sedikit dalam hidup Anda.

Pertanyaan #1; Bagaimana Jika Saya Salah ?

            Terdapat aturan umum, bahwa kita semua adalah pengamat yang paling buruk di dunia, khususnya jika diminta untuk mengamati diri kita sendiri. Dan satu – satunya cara untuk menemukan hal ini adalah dengan melubangi baju zirah keyakinan kita sendiri, yaitu terus menerus bertanya apa yang mungkin menjadi kekeliruan kita.

            Penting untuk diingat bahwa demi suatu perubahan di dalam hidup Anda, Anda harus pernah keliru akan sesuatu. Jika anda duduk di sana, merasa sedih hari demi hari, itu berarti Anda sudah keliru tentang sesuatu yang besar dalam kehidupan Anda, dan jika Anda belum mampu menemukan kekeliruan tersebut dengan terus bertanya kepada diri Anda, maka tidak ada yang akan berubah.

Pertanyaan #2; Apa Artinya jika Saya Keliru ?

            Banyak orang mampu bertanya pada diri sendiri mereka sendiri apakah mereka keliru, namun hanya sedikit yang mampu melangkah lebih jauh dan mngetahui dengan benar apa artinya jika mereka keliru. Penyebabbya adalah rasa sakit yang ada di balik kekeliruan kita tersebut.

            Aristoles menulis, “Tanda dari seorang yang terpelajar ada pada kemampuannya untuk menertawakan suatu pemikiran tanpa harus menerimanya. “ Mampu melihat dan mengevaluasi nilai – nilai yang berbeda tanpa perlu menerapkannya mungkin adalah keahlian utama yang dituntut untuk mengubah hidup seseorang dengan cara yang sangat berarti.  

Pertanyaan #3; Apakah kekeliruan akan menciptakan permasalahn yang lebih baik atau buruk ketimbang permasalahan saya sekarang, baik iuntuk diri saya maupun orang lain ?

            Saya mencoba untuk hidup dengan sedikit aturan, namun salah satu aturan yang telah saya terapkan selama betahun – tahun adalah ini: jika saya merasa seseorang mengacaukan hidup saya, atau melihat ada orang lain yang hidupnya kacau, sebenarnya sayalah yang jauh, jauh, jauh lebih kacau. Saya telah mempelajari ini dari pengalaman. Saya menjadi seorang yang berengsek, karena bertindak berdasarkan rasa tidak aman dan kepastian – kepastian yang ternyata keliru, lebih banyak daripada yang bias saya hitung. Ini tidak baik.             Ini bukan berarti tidak ada hal – hal sudah barang pasti akan membuat hidup seseorang itu kacau. Bukan pula berarti bahwa ada kalanya, Anda bias jadi lebih benar ketimbang orang kebanyakan.

Leave a Reply