Ringkasan Buku The Subtle Art of Not Giving a F*ck Bab 9

Ringkasan Buku The Subtle Art of Not Giving a F*ck Bab 9

Kematian membuat kita takut. Dan karena menakutkan, kita menghindar untuk memikirkannya, membicarakannya, kadang bahkan mengakuinya, bahkan ketika itu terjadi pada seseorang yang dekat dengan kita.

            Namun, dengan cara yang aneh, berlawanan, kematan menjadi sebuah cahaya yang mampu menerangi bayangan makna- makna kehidupan. Tanpa kematian, semua terasa tidak penting, semua pengalaman, semua ukuran dan nilai – nilai tiba – tiba menjadi nol.

Sesuatu di Luar Diri Kita

            Ernest Becker adalah seorang akademisi yang terbuang. Pada 1960, dia mendapat gelar Ph.D dalam antropologi; penelitian doktoralnya membandingkan praktik yang asing dan tidak konvensional seperti Zen Buddhisme dan psikoanalisis. Pada wakti itu, Zen dikonotasikan dengan kaum hippies dan pecandu narkotika, sedangkan psikoanalisis Freud dianggap sebagai terobosan psikologi peninggalan Zaman batu.

            Becker meninggal pada tahun1974. Bukunya The Denial of Death (mengingkari kematian), memenangkan Pulitzer Prize dan menjadi salah satu karya intelktual yang paling berepngaryh diabad 20, mengguncang ranah psikologi dan atropologi, dan menyuarakan gugatan – gugatan filosofis yang dalam, yang masih menggema hingga hari ini .

The Denial of Death pada intinya menegaskan 2 hal :

  1. Manusia itu unik karena kita satu – satunya binatang yang dapat mengkonsep dan berpikir tentang diri mereka sendiri secara abstrak. Sebagai manusia. Kita dianugrahi kemampuan untuk membayangkan diri kita sendiri dalam situasi hipotesis, untuk merenungkan baik masa lalu dan masa depan, untuk membayangkan realita atau situasi lain di mana hal – hal mungkin bisa jadi berbeda. Dan itu karena kemampuan mental yang unik, ujar Becker, bahwa kita semua, pada titik tertentu, menyadari kematian yang tidak bias dihindari. Karena kita mampu mengonsep fakta dengan versi lain, kita juga satu – satunya hewan yang mampu membayangkan sebuah realita tanpa perlu ada kita di dalamnya. Karena inilah mengakibatkan apa yang Becker “terror kematian’, sebuah kegelisahan eksistensial yang mendalam mengenai apa yang mendasari semua hal yang kita pikirkan atau lakukan.
  2. Poin kedua Becker mulai dengan premis bahwa kita secara esensial memiliki dua “diri”. Diri yang pertama adalah diri fisik- diri yang makan, tidur, mendekur, mendekur, dan berak. Diri kedua adalah konseptual- identitas kita, atau bagimana kita memandang diri kita sendiri.

Argumen Becker seperti ini, kita semua sadar bahwa sampai tingkat tertentu diri fisik kita pada akhirnya akan mati, karena itu kematian tidak dapat dielakan, dan keadaan ini di beberapa tingkat kesadaran- menakutkan kita. Karena itu, dalam rangka mengompensasi ketakutan terhadap kita tidak bisa dihindarinya kemusnahan diri fisik kita, kita berusaha membangun satu diri konseptual yang akan hidup abadi. Inilah mengapa orang berusaha sekeras mungkin mematrikan nama mereka di gedung, patung, dan buku. Dan ini menjadikan alasan kita untuk membaktikan diri ita sendiri untuk orang lain, terutama untuk anak – anak dengan harapan bahwa pengaruh kita – diri konseptual kita – akan tetap ada melampaui batas diri fisik kita.

Becker menyebut usaha tersebut “proyek keabadian”, sebuah proyek yang membuat diri konseptual kita tetap hidup setelah kematian fisik kita. Semua peradaban manusia, katanya, pada dasarnya merupakan sebuah hasil dari proyek abadi ini. Entah dengan menguasai suatu bentuk seni, menaklukan tanah baru, mendapatkan kekayaan, atau sekedar memiliki keluarga besar yang saling menyayangi yang akan terus ada generasi demi generasi, semua makna dalam hidup kita dibentuk oleh hasrat alami kita untuk tidak pernah mati.

Tetapi ketika proyek keabadian kita gagal, ketika makna itu hilang, ketika kemungkinan diri kita konseptual kita hidup lebih lama daripada diri fisik kita tidak lagi terlihat bisa atau mungkin yetjadi, maka terror kematian- kegusaran yang menakutkan dan membuat depresi – kembali merayapi benak kita. Jika Anda, belum mengerti, proyek keabadian ini adalah cerminan nilai – nilai yang kita miliki. Ini adalah barometer makna dan penghargaan  yang kita hidupi. Dan ketika nilai kita gagal, begitu juga diri kita, secara psikologis. Apa yang dikatakan Becker, pada intinya adalah bahwa kita semua, digerakan oleh rasa takut kita, peduli terhadap banyak hal, karena peduli terhadap sesuatu adalah satu – satunya cara untuk mengalihkan perhatian kita dari fakta dari kematian, dan bahwasanya kematian tidak bisa dihindari. Dan untuk bisa sungguh – sungguh bodo amat terhadap sesuatu , seseorang perlu sampai pada tahap spiritual di mana orang tersebut menyadari kefanaan dirinya.

Becker kemudian sampai pada sebuah kesadaran yang mencegangkan di akhir hidupnya; bahwa proyek keabadian orang –orang sesungguhnya adalah masalah, bukan solusi; daripada berusaha mewujudkan diri konseptual mereka secara megah, kadang dengan cara yang berbahaya, orang orang seharusnya mempertanyakan diri konseptual mereka, dan mencoba semakin bersahabat dengan realita kematian diri mereka sendiri.    

Sisi Cerah Kematian

            Saya berada di Tanjung Harapan Afrika Selatan, yang dianggap ujung paling selatan Afrika dan titik paling selatan di dunia. Ini adalah tempat yang begitu bergemuruh, tempatnya badai dan dan laut yang mengamuk. Suatu tempat yang selama berabad – abad dipandang sebagai pencapaian perdagangan umat manusia.

            Ada sebuah ungkapan dalam bahasa Portugis: Ele dobra o Cabo da Boa Esperanca. Artinya. “Dia mengitari Tanjung Harapan.” Ironisnya, ini mengandung makna bahwa seseorang berada di fase akhir hidupnya, bahwa dia tidak mampu menyelesaikan apa pun lagi.

            Tubuh manusia rupanya dilengkapi dengan sebuah radar alami yang bekerja dalam situasi yang berpotensi mengakibatkan kematiannya. Contohnya, momen ketika Anda berada sekitar 3 meter dari tepi tebing, tanpa batas pengaman, suatu ketegangan tertentu menusuk- nusuk tubuh anda. Punggung Anda menjadi kaku. Kulit Anda berdesir. Tetapi saya melawan magnet itu. Saya menyeret kaki yang bagaikan batu itu semakin dekat dengan tepi.

Satu meter, badan Anda mulai member peringatan penuh, lampu merah. Anda sedang berjalan menuju akhir hidup Anda. Berdiri begitu dekat dengan tepi sebuah tebing, bahkan yang begitu indah memesona seperti Tanjung Harapan, bisa menyebabkan vertigo yang kuat di kepala, dan memicu kita untuk memuntahkan makanan yang baru saja masuk.

Seperti inikah rasanya? Beginikah rasanya akhir dari segala? Apakah saya sudah mengetahui setiap hal yang sepatutnya saya ketahui? Tubuh saya gemetar ketakutan, rasa takut menjadi terasa seperti euphoria dan menyilaukan. Saya memfokuskan pikiran saya melalui semacam meditasi. Saya mengingatkan diri saya sendiri kalau mati tidak apa – apa.

            Menghadapi kenyataan mengenai kematian Andasendiri penting, karena ini melenyapkan semua nilai yang buruk, rapuh, dangkal dalam hidup. Sementara sebagian besar orang bersungut – sungut akan hari – hari yang mereka lalui ketika mencari uang, atau mencari tambahan ketenaran dan perhatian, atau mencari sedikit lagi kepastian bahwa mereka tidak bersalah atau sungguh dicintai, kematian menghadapi kita semua dengan satu pertanyaan yang jauh lebih menyakitkan dan penting: apa warisan anda?

            Bagaimana dunia akan menjadi berbeda dan lebih baik setelah Anda tiada ? Pengaruh apa yang Anda berikan? Seperti yang ditujukan Becker, bisa dikatakan itulah satu – satunya pertanyaan yang sangat penting dalam hidup kita. Namun kita menghindar untuk memikirkannya. Satu, karena ini sulit. Dua, karena ini menakuktkan. Tiga, karena kita sama sekali tidak tahu apa yang akan kita lakukan.

            Dan ketika kita menghindar dari pertanyaan ini, kita membiarkan nilai – nilai yang sepele dan penuh kebencian membajak otak kita dan mengambil alih hssrat dan ambisi kita. Tanpa pernah mengakui tatapan kematian di hadapan kita, nilai yang sifatnya dangkal akan tampil sebagai sesuatu yang penting, dan nilai yang sifatnya dangkal. Kematian adalah satu –satunya hal yang dapat kita ketahui dengan pasti. Dan karenanya, itu harus menjadi kompas yang dapat kita gunakan sebagai petunjuk arah dari nilai dan keputusan kita lainnya. Satu – satunya cara agar Anda merasa nyaman dengan kematian adalah dengan memahami dan melihat diri Anda sebagai sesuatu yang lebih besar daripada Anda sendiri; memilih nilai yang melampaui nilai yang hanya melayani diri Anda sendiri, yang sederhana dan segera dan terkontrol dan toleran terhadao dunia yang carut marut di sekitar Anda.

            Budaya kita sekarang merancukan antara perhatian yang besar dan kesuksesan yang besar dan kesuksesan yang besar, mengira kalau keduanya hal yang sama. Tetapi sebenarnya tidak. .

            Bukowski pernah menulis. “ Kita semua akan mati, semuanya. Menakutkan bukan ? Alasan itu saja seharusnya membuat kita saling mencintai, tetapi tidak. Kita diteror dan digilas oleh hal –hal yang remeh dalm hidup; ditelan oleh kehampaan. 

            Saya duduk di sana, di Tanjung untuk beberapa ment, merasakan semuanya. Ketika pada akhirnya saya memutuskan untuk berdiri, saya meletakan tangan saya di belakang saya, dan bergeser ke belakang. Setelah benar – benar yakin posisi saya aman, saya mulai berjalan kembali kenyataan – 2 meter, 5 meter- tubuh saya berangsur – angsur pulih dengan setiap langkah mundur.

            Saat saya melangkah mundur melewati beberapa batu, kembali ke jalan utama, saya melihat seorang pria yang memandangi saya. Saya berhenti dan membuat kontak mata dengannya.

“ Emm. Saya melihatmu duduk di tepi jurang sana,’ katanya. Dari aksennya, dia orang Australia. Kata “sana” meluncur dari mulutnya dengan sedikit kikuk. Dia menjunjuk arah Antartika.

            “Ya. Pemandangannya sangat cantik, bukan?’ Saya tersenyum. Dia tidak. Dia memasang mimic yang serius.

            Si Australia berdiri beberapa saat, terlihat bingung, masih melihat saya, jelas sedang berpikir apa yang akan dikatakan berikutnya. Setelah beberapa waktu, dia menyusun kata – kata dengan hati – hati.

            “Apakah semuanya baik – baik saja? Apa yang kamu rasakan sekarang?”

            Saya mengambil jeda, sambil masih tersenyum. “ Hidup, sangat hidup.”

            Kesangsiannya terpatahkan, dan tampak sebuah tarikan senyum di wajahnya. Dia menganggyk kecil dan berjlan turun menyusuri jalan setapak. Saya masih berdiri di atas, menikmati pemandangan yang ada, menunggu teman – teman saya sampai puncak.   

Leave a Reply